Perikanan Tuna

June 19th, 2010

Perikanan Tuna

Tuna merupakan ikan ekonomis penting dan memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Dagingnya lunak
2. Berlemak tinggi
3. Tekstur baik,berlapis dan empuk
4. Banyak asam amino histidin—histamin  oleh bakteri Proteus morganii
5. Aa histidin dalam 100 gr protein cakalang : big eye : madidihang  3,9 : 3,5 : 2,7 g
6. Histamin—keracunan : muntah , sakit kepala, pembengkakan bibir, bintik merah di kulit
7. Histamin < g mg/100 g batasan aman
8. Umumnya badan ikan tuna tampak padat, silindris panjang
9. Mulutnya cukup lebar, posisinya terletak di muka sedikit di bawah matanya
10. Mempunyai gigi kecil dan runcing dan bermata lebar
11. Mempunyai dua sirip dorsal yang berdekatan
12. Di belakang sirip dorsal yang kedua sampai ekornya terdapat 8–9 sirip-sirip kecil
13. Sirip-sirip demikian juga terdapat antara sirip anal dan ekornya pada bagian bawah badan
Potensi tuna, baik segar maupun olahan masih sangat terbuka untuk diekspor ke negara Amerika, Jepang, Jerman dan Prancis. BRKP DKP dan LIPI (2001 :potensi produksi ikan tuna/cakalang adalah 1 165 360 ton, pemanfaatan 78,97 %. Adapun klasifikasi dari ikan tuna adalah sebagai berikut:

Phylum  : Chordata

sub  : PhylumVertebrata

Class  : Teleostei

Sub Class  : Actinopterygi

Ordo  : Perciformes

Sub Ordo  :Scombridei

Family  :Scombridae

Genus    :Thunnus

Species terdiri dari: Thunnus obesus (big eye tuna), Thunnus alalunga (albacore), Thunnus albacore (yellowfin tuna)  Thunnus tonggol   (longtail tuna)

Penyebaran ikan tuna dibagi menjadi beberapa daerah. Adapun daerah-daerah tempat penyebaran ikan tuna adalah:

1. Samudera Hindia (termanfaatkan 48,74 %
2. Laut Sulawesi : termanfaatkan 87,54 %
3. Laut Arafura : termanfaatkan 67,93 %
4. Laut Banda : termanfaatkan 27,95 %
5. Laut seram : termanfaatkan 35,17 %
Ikan tuna ditemukan di seluruh lautan di dunia, kecualian di daerah kutub. Habitat ikan tuna berada di lapisan atas dan tengah dari laut sampai kedalaman 1600 kaki atau lebih 500m. Ikan tuna bersifat highly migratory species dan merupakan pemangsa tangkas : ikan kecil seperti herring,cod,cumi dan udang. Cara penangkapannya: tuna long line atau rawai tuna, purse seine, pole, dan trolling. Tuna dari Indonesia berkadar lemak rendah karena hidup di perairan yang panas. Daerah penangkapan tuna antara lain sekitar perairan Samudera Hindia, Sumatera, Sulawesi Utara, Irian Jaya dan Maluku. Perairan Maluku terutama Laut Banda dan sekitarnya merupakan basis migrasi berbagai jenis tuna terbesar di Asia Tenggara. Hidup di laut lepas dan dekat di permukaan.  Panjang maksimum mencapai 195 cm, umumnya 50-150 cm, pemakan ikan cumi-cumi dan udang.
Potensi yang terdapat pada ikan tuna:
1. Saat ini kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar 200 juta dolar AS (Rp 1,83 triliun)
2. Dari total kuota impor tuna beku UE sebanyak 25.000 ton, impor tuna beku Indonesia baru mencapai 2.750 ton atau berkisar 11%. Jauh bila dibandingkan total produksi dari Thailand yang sebesar 13.000 ton atau mendominasi hampir 52% dari total impor tuna beku yang dibutuhkan negara UE.
Ikan tuna dapat diolah menjadi berbagai bentuk yang bisa dimnafaatkan. Diantara produk olahan ikan tuna adalah:
1.Tuna kaleng
2.Tuna loin
3.Tuna saku
4.Breaded tuna
5. Permen tuna
6. Burger dan sejenisnya
7. Bekasang
8. Gelatin
9. Dari mata– ekstrak omega-3
Komposisi dari ikan tuna:
1. bervariasi menurut jenis, umur, kelamin dan musim
2. Perubahan yang nyata terjadi pada kandungan lemak sebelum dan sesudah memijah
3. Kandungan lemak juga berbeda nyata pada bagian tubuh yang satu dengan yang lain
4. Ketebalan lapisan lemak dibawah kulit berubah menurut umur dan musim.  Lemak paling banyak  terdapat pada dinding perut yang berfungsi sebagai gudang lemak.

Komposisi Jenis Ikan Tuna Satuan
Bluefin Skipjack Yellowfin
Energi 121,0 131,0 105,0 kalori
Protein 22,6 26,2 24,1 gram
Lemak 2,7 2,1 0,2 gram
Abu 1,2 1,3 1,2 gram
Kalsium 8,0 8,0 9,0 miligram
Fosfor 190,0 220,2 220,0 miligram
Besi 2,7 4,0 1,1 miligram
Sodium 90,0 52,0 78,0 miligram
Retinol 10,0 10,0 5,0 miligram

Budidaya ikan gurami memerlukan kolam penyimpanan induk, kolam pemijahan, kolam/bak penetasan dan pemeliharaan benih, kolam pendederan, kolam pembersaran dan kolam pemberokan (penyimpanan sebelum di pasarkan). Sebelum dilakukan kegiatan budidaya, perlu dilakukan pembuatan kolam yang meliputi antara lain pembuatan pematang, saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air, caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan), serta pengolahan dasar kolam dengan pupuk dan kapur. Setelah kolam siap untuk digunakan, baru dilakukan kegiatan pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan gurami.
(1) Persiapan kolam
Tahap persiapan kolam untuk pembenihan, pendederan maupun pembesaran prinsipnya hampir sama, hanya dibedakan pada padat tebar dan jenis pakan yang diberikan serta ketinggian air yang dibutuhkan. Konstruksi kolam dan pengolahan lahan pada setiap tahap sama.
a. Pembuatan kolam
Bentuk pematang dibuat trapesium yaitu lebih lebar di bagian bawah, dengan kemiringan sebaiknya tidak lebih dari 45&degC. Untuk membuat kolam dilakukan pencangkulan guna membalik tanah dasar dengan “keduk teplok”, yaitu memperdalam saluran dan pemetakan kolam yang sekaligus memperbaiki pematangnya, sehingga ketinggian air kolam nantinya mencapai 60 m. Kowean dibuat di tengah kolam dengan ukuran 1×1×0,4 m dan diberi tanggul sehingga merupakan kolam kecil di dalam kolam (Lihat skema 4.2.). Kowean berfungsi untuk melepaskan benih berat 0,5 gram pada saat penebaran dan tempat unuk menangkap ikan saat panen. Setelah itu membuat caren dengan lebar 30 cm dan dalam 30 cm, yang berfungsi sebagai tampat pengumpulan benih pada saat air kolam dangkal atau surut dan untuk menggiring benih ke kowean saat panen

Pada saat persiapan pembuatan kolam dilakukan juga pengeringan dasar kolam. Setelah dasar kolam kering, diberikan kapur dengan dosis 100-200 gr/m2 dan pupuk kandang 500-1.000 gr/m2. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam karena memiliki unsur hara yang lengkap untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi. Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton dan Bentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan larva dan benih ikan gurami. Setelah itu dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami. Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 s.d 14 hari. Di dasar kolam dekat pintu pemasukan air sebaiknya ditanami ganggang Hydrilla verticilata sebagai tempat berlindung dan mencari makan benih ikan gurami.
(2). Pembenihan
a. Tahan pemijahan
1). Pemeliharaan induk
Induk-induk disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Seekor induk membutuhkan luas kolam kurang lebih 5 meter dengan dasar kolam berpasir dan kedalaman air sekitar 75-100 cm. Pakan yang diberikan adalah daun-daunan sebanyak kurang lebih 5% dari berat populasi dan pakan diberikan pada setiap sore hari. Makanan tambahan dapat diberikan berupa pelet sebanyak 0,5-1% dari berat populasi. Pemberian pelet untuk induk dibatasi untuk mencegah timbunan lemak pada induk karena dapat mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan. Ukuran berat induk jantan sekitar 2-3 kg/ekor dan induk betina 2-2,5 kg/ekor. Induk gurami dapat dipijahkan 2 kali dalam setahun selama usia produktif (5 tahun) . Induk gurami dapat dipijahkan tidak lebih dari 10 kali karena jika lebih dari 10 kali memijah dikhawatirkan fekunditas (yaitu daya tetas telur menjadi larva), rendah dan mortalitas telur dan benih yang dihasilkan meningkat.
2). Penebaran induk dan proses pemijahan
Setelah proses pematangan gonad (yaitu organ hewan yang menghasilkan sperma dan telur) di kolam penampungan telah mencapai puncaknya, induk dimasukkan ke dalam petak kolam pemijahan. Luas kolam yang diperlukan untuk pemijahan adalah kurang lebih 20 m2 per pasang induk yang terdiri dari 1 ekor pejantan dan 3-4 ekor betina. Untuk mengetahui apakah induk telah siap memijah dapat diketahui dari ciri-ciri sebagai berikut :
Induk betina
– Bagian perut belakang sirip dada kelihatan menggembung
– Sisik -sisik agak terbuka
Induk jantan
– Kedua belah rusuknya bagian perut membentuk sudut tumpul
– Tingkahnya sangat agresif

Foto 4 : Kolam Induk.
Kolam induk yang luas dapat disekat menjadi beberapa bagian dengan menggunakan pagar bambu
Induk jantan akan membuat sarang setelah 15-30 hari dilepaskan dalam kolam pemijahan. Oleh karena itu dipersiapkan perlengkapan kolam pemijahan terdiri dari sosog, anjang-anjang dan bahan sarang. Sosog sebagai tempat sarang terbuat dari bambu yang dipasang di bawah permukaan air. Anjang-anjang adalah tempat meletakkan bahan sarang yang terbuat dari bambu dengan lubang anyaman 10×10 cm di pasang di atas permukaan air. Bahan sarang berupa ijuk halus, serabut kelapa atau serat karung. Satu ekor jantan dapat membuat 2 buah sarang. Pembuatan sarang berlangsung selama 1 minggu.
Pemijahan berlangsung sekitar 2 hari setelah pembuatan sarang. Induk gurami betina melepaskan telurnya ke sarang dan induk jantan menyemprotkan spermanya sehingga terjadi pembuahan. Telur-telur yang jatuh ke dasar kolam di ambil oleh induk jantan dengan mulutnya kemudian di masukkan dalam sarang. Pemijahan berlangsung 2-3 hari dan sementara pemijahan berlangsung induk betina menjaga sarang. Sarang yang berisi telur kemudian ditutup dan di jaga oleh induk jantan. Untuk menjaga sirkulasi dan pasokan oksigen ke dalam sarang, induk betina menggerak-gerakkan sirip ekor ke arah sarang. Satu ekor betina dapat menghasilkan 3.000-4.000 butir, bahkan ada yang mencapai 10.000 butir telur. Tanda telah terjadi pemijahan adalah terciumnya bau amis dan permukaan air di atas sarang terlihat berminyak..
b. Penetasan telur
Telur dapat diambil 1 hari setelah pemijahan. Telur-telur ini kemudian dipisahkan dari sarangnya dan dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan lemak yang menempel pada telur kemudian ditetaskan dalam wadah yang sudah disiapkan. Telur dapat menetas dalam waktu 30-35 jam setelah dilepaskan induknya. Penetasan telur dapat dilakukan di bak plastik berdiameter 60 cm. Bak dapat diisi sampai 1.000 butir. Benih yang baru menetas mendapat makanan dari sisa-sisa kuning telur yang ada pada tubuhnya. Setelah cadangan makanan tersebut habis (± 10 hari), larva baru diberi pakan berupa pakan alami (misalnya tubifex) secukupnya dan dipelihara hingga menjadi larva dengan berat 0,5 gram selama ± 30 hari.
Perawatan larva juga dapat dilakukan di kolam sawah sebagai pernyeling di sawah pada sistem mina padi dengan cara mengambil larva yang berumur ± 7 hari yaitu menjelang kuning telurnya habis. Larva di tebar di sawah dengan kepadatan 10 ekor/m2 dan dapat dipelihara selama 1 bulan.

Foto 5 : Telur.
Telur ikan gurami sudah dapat diperjualbelikan

Foto 6 : Telur yang Telah Menetas Menjadi Larva
(3). Pendederan
a. Penebaran benih
Sebelum benih ukuran 0,5 sampai 25 gram ditebar terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang berkualitas baik untuk menjamin kualitas produksi ikan yang dipelihara. Dalam pemilihan benih tebaran yang perlu diperhatikan antara lain :
• Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka dan gerakan lincah
• Warna sisik tidak terlalu hitam
• Sisik tubuh lengkap/tidak ada yang lepas
• Tubuh tidak kaku
• Ukuran seragam
Penebaran benih dilakukan 5 hari setelah pemupukan, dengan padat tebar dan tinggi air sesuai ukuran benih . Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah. Sebelum ditebar, dilakukan penyesuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam (proses aklimitasi) dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit secara perlahan ke dalam wadah angkut. Setelah terjadi penyesuaian suhu, wadah angkut dimasukkan ke dalam kolam. Air akan bercampur sedikit demi sedikit dan ikan-ikan akan keluar dan berenang ke tengah kolam.

b. Pemberian pakan
Selama masa pertumbuhannyam ikan gurami mengalami perubahan tingkah laku makan (feeding habit) yang sangat signifikan. Larva bersifat karnivora (pemakan daging) sampai dengan ukuran dan umur tertentu, sedangkan juvenil muda bersifat omnivora (pemakan segala) dan setelah ukuran induk menjadi herbivora (pemakan daun). Pola perubahan tersebut terkait dengan pola perubahan enzimatik dalam saluran pencernaannya.
Adapun jenis pakan ikan gurami terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun-daunan maupun pakan buatan (anorganik), berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza (L), Schott), pepaya (Carica papaya Linn), keladi (Colocasia esculenta Schott), ketela pohon (Manihot utililissima Bohl), genjer (Limnocharis flava (L) Buch ), Kimpul (Xanthosoma violaceum Schott), Kangkung (Ipomea reptans Poin), Ubi jalar (Ipomea batatas Lamk), ketimun (Cucumis sativus L), labu (Curcubita moshata Duch en Poir), dadap (Erythrina sp).
Komposisi makanan yang ideal bagi pertumbuhan ikan adalah makanan yang berkadar protein 40%. Namun untuk efisiensi biaya, persentase pemberian makanan buatan ini hendaknya disesuaikan dengan persediaan makanan yang telah ada dalam kolam. Bila masih cukup banyak, cukup diberikan makanan buatan dengan kadar protein 20-30% saja.

Selain pakan buatan buatan pabrik berupa pelet, pembudidaya dapat pula membuat sendiri pakan ikan. Pembuatan pakan buatan sendiri akan menurunkan biaya produksi karena lebih murah. Adapun bahan-bahan yang biasanya digunakan untuk pakan benih ikan adalah dedak, ikan asin, bungkil dan minyak ikan.
Untuk benih yang masih kecil diberi pakan yang berukuran kecil berupa zooplankton, tubilex dll dimana seiring dengan semakin besarnya ikan makan dapat mnggunakan pakan dengan ukuran yang lebih besar dan pakan berupa daun-daunan. Pada usaha budidaya yang hanya menggunakan pakan daun-daunan (teknologi tradisional) pertumbuhan ikan relatif lambat. Sebagai gambaran, berdasarkan pengalaman pembudidaya pemeliharaan benih ikan ukuran 200 gram dengan hanya diberi pakan daun-daunan saja membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran 500 gram, sedangkan jika menggunakan pelet dan daun-daunan hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sehingga dianjurkan untuk dilakukan kombinasi antara daun-daunan dengan pelet.
Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan. Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalan 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan.
c. Pemanenan
Pemanenan ditahap pendederan dilakukan setelah benih mencapai berat 20-25 gram. Dalam pelaksanaan pemanenan yang perlu diperhatikan antara lain :
• Waktu pemanenan sebaiknya pagi atau sore hari
• Untuk memudahkan penangkapan, sebelum dilakukan penangkapan perlu dimasukkan daun pisang ke dalam kolam sebagai tempat berkumpulnya benih ikan.
• Proses penangkapan dilakukan secara hati-hati sehingga tidak sampai menyebabkan lepasnya sisik terutama pada bagian punggung
• Penangkapan benih ikan di kolam dilakukan pada kondisi temperatur air rendah dan tidak dalam kondisi hujan. Saat penangkapan kedalaman air kolam dibiarkan setinggi 20-30 cm.
• Pengangkutan benih juga sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari. Wadah angkut yang digunakan berupa drum (Volume 200 lt) atau jerigen. Drum diisi air setengan dari volume, posisi drum ditidurkan. Jumlah benih dalam setiap drum berkisar antara 10-15 kg tergantung lamanya proses pengangkutan.
Setelah pemanenan, benih di jual kepada pengusaha pembesaran gurami atau dipelihara lagi di kolam lain untuk mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar. Untuk mengupayakan agar tingkat kematian benih rendah, dalam pengiriman benih menggunakan jerigen atau drum yang diisi air bersih dan selama pengiriman benih ikan tidak diberi pakan (perut dikosongkan).

Foto 9 : Wadah dan Alat Angkut Benih.
Benih yang siap dijual ditampung dalam jerigen yang dibuka dibagian sisinya dan diangkut dengan kendaraan angkut
(4). Pembesaran
Dalam tahapan pembesaran, luas kolam optimal sekitar 200 m2 dengan konstruksi kolam berupa kolam tanah. Kedalaman air kolam sekitar 1 m dari dasar kolam dibuat tidak terlalu berlumpur. Persiapan kolam dalam tahapan ini tidak jauh berbeda dengan persiapan yang dilakukan pada tahap pendederan.
Ikan yang dipelihara dapat berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2. Pakan yang diberikan terdiri dari pelet dengan jumlah pemberian sebanyak 1,5 – 2% pada pagi dan sore hari serta daun-daunan sebanyak 5% diberikan pada sore hari. Dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor.
Pemanenan dilakukan sama seperti pada tahap pendederan, hanya saja pada tahap pembesaran pemanenen sebaiknya tanpa menggunakan alat tangkap.

http://birulaut.com/2009/09/08/budidaya-pendederan-dan-pembesaran-ikan-gurami/

Potensi perikanan tersebar di beberapa daerah di seluruh Propinsi Jateng berupa perikanan darat, air tawar dan laut, sekaligus memanfaatkan Zona Eekonomi Ekslusif (ZEE). Produksi perikanan pada 1997 meliputi perikanan laut 268.921,9 ton dan perikanan darat 79.405,9 ton. Kedua jenis komoditas perikanan ini masih dapat dikembangkan lebih optimal lagi, dengan menggunakan peralatan penangkap ikan yang modern. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Jawa Tengah masih membutuhkan banyak investor, baik swasta lokal maupun asing. Hasil perikanan di Jawa Tengah pada 1998 adalah sebagai berikut: perikanan laut 292.479,3 ton dengan nilai sekitar Rp 697.263.248.000,00; perikanan darat kurang lebih 18.720,5 ton (meliputi ikan sawah, keramba, kolam, tambak, dan perairan umum) dengan nilai sekitar Rp 72.542.615.000,00. Itulah hasil perikanan di Jawa Tengah yang meliputi perikanan laut dan darat.

Dengan hasil yang dimiliki Jawa Tengah ini, kini sudah saatnya dikembangkan agrobisnis perikanan yang dapat dijadikan basis (penopang) pembangunan ekonomi daerah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa daerah di seluruh Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan di sektor perikanan, baik perikanan darat maupun laut. Tetapi sayang, potensi yang sangat besar itu belum dimanfaatkan dan digali secara optimal. Belum lagi, puluhan triliun rupiah setiap tahunnya hilang dari sektor perikanan laut karena dicuri nelayan asing. Hal itu perlu diantisipasi. Untuk prospek ke depan, sektor perikanan darat dan laut harus dapat dijadikan potensi andalan daerah Jawa Tengah.

Setelah Indonesia terpuruk dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, kini saatnya dibangun sektor perikanan sebagai basis sektor riil. Meski di masa lalu, sektor ini hanya dipandang sebelah mata, sekarang pandangan itu harus diubah. Bahkan, karena kekayaan laut kita, sektor perikanan ternyata memberi sumbangan yang positif terhadap pendapatan nasional.

Kecilnya peranan sektor perikanan pada masa lalu bukan disebabkan ketidakmampuan sektor ini memberikan sumbangan bagi perekonomian nasional. Melainkan, lebih disebabkan oleh rendahnya perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan (laut) di masa lalu. Pembangunan ekonomi pada waktu itu lebih didasarkan pada pengembangan industri yang berbasis sumber daya di darat, tidak diarahkan pada kegiatan ekonomi yang berbasis perikanan. Padahal di negara-negara seperti Jepang, Taiwan, Korsel, Cina, Thailand dan Norwegia yang potensi perikanan dan kelautannya lebih kecil dibandingkan Indonesia, sektor perikanan dan kelautan memberikan kontribusi sangat besar bagi pendapatan nasional mereka.

Dengan potensi sumber daya kelautan (perikanan) yang melimpah, negeri ini memiliki peluang yang sangat besar untuk memulihkan perekonomian nasional, khususnya dengan bertumpu pada pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan secara tepat dan optimal. Hal itu didasarkan pada berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa permintaan akan hasil perikanan cenderung terus meningkat, baik untuk permintaan dari dalam maupun luar negeri. Pendek kata, sektor perikanan laut dan hasil laut lainya dapat dijadikan sektor penyelamat keterpurukan ekonomi Indonesia akibat salah urus di masa Orde Baru, yang marak dengan budaya KKN yang dampaknya masih dirasakan hingga sekarang.

http://www.indonesia.go.id

Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan yang kaya akan potensi dan sumber daya alam. Potensi yang terkandung di bumi serumpun sebalai ini tersebar disetiap penjuru kabupaten. Salahsatu potensi yang saat ini digandrungi oleh masyarakat Bangka Belitung sebagai mata pencaharian utama yaitu sektor Pertambangan. Sektor ini terbukti secara sah dan meyakinkan mampu meningkatkan taraf ekonomi kehidupan masyarakat Bangka Belitung. Kegiatan ini sangat marak dilakoni oleh masyarakat karena penghasilan yang didapatkan dari kegiatan ini cukup tinggi dan telah membuat masyarakat meningkat kesejahteraannya (baca : kaya). Namun yang namanya pertambangan adalah sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Suatu saat timah akan habis, dan ketika timah sudah betul-betul habis maka yang akan terjadi kemudian adalah kondisi masyarakat yang merana berkepanjangan.

Disamping penambangan timah, mata pencaharian lain yang dilakoni oleh masyarakat Bangka Belitung adalah di sektor perikanan, baik pada perikanan tangkap (nelayan) maupun pada perikanan darat (pembudidaya ikan). Jumlah para masyarakat yang bergerak pada sektor perikanan di Bangka Belitung belum begitu banyak. Hal ini dikarenakan trend untuk menjadikan masyarakat menjadi pelaku perikanan belum begitu menguat. Seharusnya masyarakat diarahkan untuk mengalami metamorphosis mind set dari kegiatan penambangan ke kegiatan perikanan. Dengan jumlah dan luas perairan yang cukup luas, bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk menjadikan Bangka Belitung sebagai sentra perikanan di Indonesia sebagaimana Gorontalo yang menjadi sentra Jagung di Indonesia. Salahsatu upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah optimalisasi pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan yang ada di Bangka Belitung.

Departemen Kelautan dan Perikanan yang sekarang sudah tidak lagi berbentuk departemen tapi berbentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan PP No. 47 tahun 2009, merupakan instansi yang membuat kebijakan tentang perikanan di Indonesia. Berkenaan dengan program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan di Indonesia, kementerian Kelautan dan Perikanan di Indonesia telah menelorkan beberapa kebijakan yang diharapkan akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan dan nelayan. Beberapa kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan peningkatan kegiatan usaha para pembudidaya ikan dan nelayan yaitu : bantuan fasilitas (sarana dan prasarana kegiatan perikanan), bantuan permodalan (Dana Penguatan Modal), penyuluhan tentang teknik budidaya ikan, sertifikasi benih, standar benih nasional Indonesia, pengolahan hasil perikanan, pemberdayaan istri-istri nelayan, penyuluhan tentang pembentukan koperasi, Program PNPM-pesisir, PEMP (Program ekonomi Masyarakat Pesisir) dan program-program lainnya. Kebijakan-kebijakan diatas di break down ke tataran Dinas kelautan dan perikanan untuk kemudian diimplementasikan ke masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salahsatu upaya dalam membantu peningkatan kegiatan usaha para nelayan dan pembudidaya ikan sehingga pada akhirnya taraf hidup mereka akan meningkat. Pola pemberdayaan dilakukan diantaranya melalui program-program yang telah digariskan. Saat ini banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyukseskan upaya pemberdayaan masyarakat, diantaranya yaitu : melalui rekruitmen penyuluh-penyuluh kontrak dan atau optimalisasi peran PNS di dinas kelautan dan perikanan. Penyuluh-penyuluh kontrak dan atau tenaga teknis lapangan PNS inilah yang menjadi ujung tombak dalam mensosialisasikan program pemerintah sehingga masyarakat terberdayakan dan terbantu kegiatan usahanya.

Dalam perjalanannya penyuluh-penyuluh kontrak dan tenaga teknis lapangan PNS yang ada kapasitasnya tidak terlalu besar. Salahsatunya karena minimnya jumlah tenaga yang ada. Minimnya jumlah tenaga penyuluh yang ada karena minimnya dana. Tidak semua tenaga penyuluh dan PNS mampu menjangkau setiap desa yang ada. Di Bangka Belitung, kondisi minimnya tenaga penyuluhpun terjadi. Jumlah tenaga teknis lapangan dalam konteks pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan masih kurang. Berkaca dari hal tersebut diatas, Saatnya untuk kemudian memanfaatkan kampus dalam program pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan kampus dalam hal ini para mahasiswanya untuk program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan memiliki asas mutualisme.

Asas Mutualisme yang dimaksud yaitu di satu sisi pemerintah diuntungkan karena pemerintah punya tenaga-tenaga muda, energik dan penuh semangat dalam mensukseskan program-program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan. Disamping itu tidak pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana yang besar. Disisi lain mahasiswa juga diuntungkan karena dengan dilibatkannya mahasiswa dalam program pemberdayaan ini, mahasiswa akan mampu mengaplikasikan (praktek) secara langsung ilmu dan pengetahuan teori yang didapat dari kuliah ke lapangan. Mahasiswa tidak hanya berkutat pada diktat kuliah atau hal-hal yang bersifat normatif saja namun juga mampu menerapkan. Mahasiswa dituntut untuk bisa memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan membina masyarakat dalam konteks pemberdayaan. Tentu saja mahasiswa tidak sendiri. Mahasiswa akan diarahkan oleh pihak dinas atau oleh para dosen yang memiliki tanggungjawab moral dalam membina mahasiswa. Kesertaan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan ini juga memiliki nilai lebih yaitu sebagai salahsatu bentuk pengamalan tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Untuk mewujudkan kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kampus adalah melalui program kemitraan antara pihak pemerintah dalam hal ini Dinas kelautan dan Perikanan dengan pihak Perguruan Tinggi. Di Bangka Belitung saat ini Dinas kelautan dan Perikanan baik tingkat provinsi maupun kabupaten sedang gencar-gencarnya dalam melakukan aktivitas pembangunan perikanan dalam hal pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan melalui aktivitas-aktivitas penyuluhan. Disisi lain di Bangka Belitung memiliki Universitas Bangka Belitung yang memiliki jurusan perikanan (Program studi DIII Perikanan yang akan bermetamorfosis menjadi S1 Budidaya Perairan). Dengan melihat kenyataan ini, maka program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan berbasis kampus sangat mungkin untuk dilakukan.

Mahasiswa adalah agent of change, kaum intelektual, namun semua itu perlu dibuktikan. Pembuktian yang harus dilakukan oleh mahasiswa tidak sekedar turun ke jalan, berdemonstrasi atau mengkritik pemerintah. Namun mahasiswa juga dituntut untuk mengaktualisasikan ilmu di bangku kuliah mereka dalam bentuk karya-karya nyata ke masyarakat, salahsatunya melalui bentuk pengabdian kepada masyarakat. Untuk mahasiswa perikanan salahsatu yang dapat ditempuh adalah melalui keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat pembudidaya ikan dan nelayan. Semoga pembangunan perikanan melalui pemberdayaan pembudidaya ikan melalui kerjasama berbagai elemen dan stakeholder di Bangka Belitung dapat terlaksana secara progressif sehingga Bangka Belitung dapat meraih predikat Provinsi Perikanan. Semoga!

Written By : Eva Prasetiyono
Dosen Universitas Bangka Belitung/
Pengurus DPW PPNSI Babel